Perkembangan Kognisi Pada Manusia

Kognisi adalah proses untuk memperoleh, menyimpan dan menggunakan pengetahuan melalui pengalaman sendiri. Kognisi berperan antara lain terhadap kemampuan belajar, pemahaman bahasa, pengertian logika dan pengambilan keputusan.

Ilmuwan yang banyak mempengaruhi ilmu perkembangan kognisi adalah psikolog Swis bernama Jean Piaget. Teorinya yang terkenal adalah tentang stadium perkembangan kognisi yang menjelaskan tentang tahap-tahap perkembangan kognisi manusia mulai dari bayi hingga dewasa.

Stadium perkembangan kognisi manusia menurut Piaget adalah:

Stadium Sensori-motorik (0 – 18/24 bulan) Back
Pada stadium ini, perkembangan kognisi manusia tampak melalui gerakan-gerakan refleks sebagai reaksi atas pengetahuan yang didapat dari dunia luar. Stadium ini dibagi dalam 6 sub stadium, yaitu:

  • Sub stadium I (+/- 0-1 bulan), ditandai gerakan-gerakan refleks bawaan
  • Sub stadium II (+/- 1-4 bulan), ditandai gerakan-gerakan modifikasi stadium I berupa koordinasi mata-tangan (disebut reaksi sirkuler primer) yang tertuju pada badan sendiri. Contohnya bermain-main dengan jari-jari kakinya sendiri.
  • Sub stadium III (+/- 4-8 bulan), ditandai dengan tingkah laku yang membuat hasil yang menyenangkan dan ditujukan pada lingkungan eksternal (disebut reaksi sirkuler sekunder). Contohnya mengikuti obyek dengan mata, tidak heran kalau obyek menghilang dari pandangan, tidak mencoba untuk memegang obyek yang menghilang dari pandangan.
  • Sub stadium IV (+/- 8-12 bulan), ditandai dengan koordinasi atas respon-respon pada stadium III (disebut koordinasi reaksi sirkuler sekunder). Contohnya mencoba memegang dengan tangan obyek yang menghilang dari pandangan, mencari terus di tempat menemukan sebelumnya meskipun melihat kalau obyek dipindah.
  • Sub stadium V (+/- 12-18 bulan), ditandai dengan trial and error yang aktif, dorongan eksplorasi dan manipulasi obyek-obyek baru. Contohnya mencari obyek di tempat terakhir dilihatnya menghilang.
  • Sub stadium VI (+/- 18-24 bulan), ditandai dengan perpindahan fungsi sensori motoris ke fungsi simbolis kognitif. Contoh jika obyek dimasukkan ke dalam kotak kemudian kotak diletakkan di belakang layar dan obyek dikeluarkan maka anak mulai mengerti untuk mencari ke belakang layar.

Stadium Pra-operasional (24 bulan – 7 tahun) Back
Stadium ini dibagi dalam 2 sub stadium, yaitu:

  1. Sub stadium simbolis dan intuitif (24 bulan – 5 tahun). Ciri-ciri pada sub stadium ini adalah:
    • Penguasaan bahasa yang sistematis
    • Permainan simbolis, contohnya bermain rumah-rumahan dan jamuan teh.
    • Menirukan apa yang dilihatnya (imitasi), baik yang langsung atau tertunda. Contohnya menirukan tingkah laku yang dilihat sekarang atau sehari sebelumnya.
    • Mampu mengadakan antisipasi. Contohnya saat membuat menara-menaraan, anak dapat menyebutkan bahwa menaranya belum selesai karena ia tahu bagaimana menara yang akan dibuatnya.
    • Egosentris, artinya anak berpikir dari perspektifnya sendiri dan belum mampu melihat perspektif orang lain.
  2. Sub stadium konservasi (5 – 7 tahun). Ciri-ciri pada sub stadium ini adalah:
    • Berkembang kemampuan konservasi, yaitu anak dapat mengerti bahwa sifat-sifat tertentu suatu obyek akan tetap sama meskipun obyek itu berubah bentuk.
    • Sentralisasi, yaitu anak berpikir dalam satu dimensi.
    • Cara berpikir terarah statis, contohnya jika anak diminta menggambar sebuah tongkat yang jatuh maka anak mula-mula menggambar tongkat yang berdiri tegak dan kemudian tongkat yang berbaring. Aspek dinamik tongkat yang jatuh diabaikan anak.
    • Berpikir logis yang tidak berbalik (irreversible), contohnya adalah percakapan antara guru dan anak berikut:

      Guru: Budi, apa Budi punya saudara?
      Budi: Ya!
      Guru: Siapa nama saudaramu?
      Budi: Mita
      Guru: Apa Mita punya saudara?
      Budi: Tidak

Stadium Operasional Konkrit (7 – 11 tahun) Back
Ciri-ciri pada stadium ini adalah:

  • berkurangnya egosentris dan mulai dapat melihat perspektif orang lain.
  • sentralisasi menjadi desentralisasi, yaitu mulai memperhatikan lebih dari satu dimensi dan menghubungkan dimensi-dimensi tersebut satu sama lain.
  • mulai dapat berpikir logis terutama pada benda atau masalah yang konkrit. Contohnya jika diberi kumpulan balok persegi berwarna merah dan putih dan kumpulan bulatan berwarna hijau dan biru maka anak akan dapat mengelompokkan
    kumpulan-kumpulan tersebut dengan tepat berdasarkan warna dan bentuknya.
  • dapat berpikir logis berbalik (reversible)

Stadium Operasional Formal (mulai 11 tahun) Back
Stadium ini dimulai ketika anak berumur +/- 11 tahun hingga menjadi manusia dewasa. Pada stadium ini anak mulai dapat berpikir secara logis dan abstrak. Ciri-ciri pada stadium ini adalah:

  • berpikir deduktif-hipotesis dimana dalam menyelesaikan sebuah masalah anak tidak langsung terjun menyelesaikan masalah tersebut. Anak akan mulai dengan memikirkannya secara teoritis, menganalisa, mencari kemungkinan-kemungkinan penyelesaian, menganalisa kemungkinan-kemungkinan tersebut dan akhirnya menyelesaikan masalah dengan penyelesaian terbaik.
  • berpikir kombinasi dimana anak dapat menyusun matriks kombinasi penyelesaian masalah secara teoritis dan menguji setiap sel kemungkinan secara sistematis. Jika menemukan penyelesaian yang benar, anak dapat mengulanginya kembali di kemudian hari.

buku-psikologi-perkembangan
Dirangkum dari: Monks, F. J. Prof. Dr., Knoers, A.M.P, Prof. Dr., Haditono, Siti Rahayu, Prof. Dr., “Psikologi Perkembangan – Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya”, Gadjah Mada University Press, 2006

Lihat Juga

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + one =