Panggilan Menjadi Guru Sekolah Minggu (GSM)

foto_pdt_midian_kh_sirait
Artikel ini adalah tulisan dari Pdt. Midian KH Sirait, MTh yang disampaikan pada pembinaan Guru Sekolah Minggu HKBP Distrik X Medan Aceh tahun 2005. Berdasarkan almanak HKBP tahun 2013, saat ini beliau bertugas sebagai Praeses Distrik XI Toba Hasundutan. Tulisan ini diambil dari blog pribadi beliau dan telah diedit minimal untuk memperbaiki tulisan tanpa bermaksud mengubah isi dan maksudnya. Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan Guru Sekolah Minggu. Tuhan memberkati.

Pengantar


Sekolah Minggu adalah suatu institusi formal maupun informal bagi setiap anak untuk belajar akan nilai-nilai agama dan moral. Sekolah Minggu merupakan sarana pendukung dalam pembinaan rohani anak-anak. Sarana pendukung untuk setiap orang tua mengajarkan nilai-nilai Kristiani bagi anaknya, supaya anak-anak bisa mengenal Juru Selamatnya secara pribadi sejak usia dini. Oleh sebab itu panggilan menjadi Guru Sekolah Minggu (GSM) pada hakekatnya merupakan respons atas keselamatan yang telah ia terima dari Tuhan Yesus. Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus (bandingkan 1 Korintus 12, 13+17, Efesus 5:2-3), para GSM memiliki tanggung jawab agar Anak Sekolah Minggu (ASM) memiliki iman dan tumbuh menjadi dewasa dalam semangat yang sama, yaitu saling melayani sebagaimana Tuhan sendiri menghendakinya. Perannya ialah memperlengkapi dan membukakan wawasan pembina/guru sekolah atau sekolah minggu untuk berperan aktif sebagai pena Allah dalam menggores sejarah di dalam hidup anak-anak didiknya.

Sesuai dengan tugasnya mengajar ASM, maka ASM harus dipandang juga sebagai anggota tubuh Kristus, yang juga bagian dari penyelamatan Tuhan Yesus. Dalam eksistensinya, wadah anak untuk bersekutu dan berkumpul oleh HKBP disebut dengan Sekolah Minggu. Kata “Sekolah” berarti disana yang diperankan adalah pengajaran atau pendidikan yang berhubungan dengan iman kepada Yesus. Kata “Minggu” berarti pengajaran itu dilakukan pada hari Minggu (Pagi). Hubungan Guru dengan Murid tidak lain adalah sebagai anggota tubuh Kristus yang bersekutu di dalam wadah tersebut.

Inti pokok yang perlu diperhatikan para Guru Sekolah Minggu ialah tugas utamanya. Pertama adalah membawa anak itu datang kepada Yesus. Kedua adalah agar mereka belajar takut akan Tuhan Allah. Ketiga adalah agar ASM melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat Tuhan (Ulangan 31:12-13).

Masalahnya, kebanyakan gereja menempatkan pelayanan Sekolah Minggu sebagai “pelengkap penyerta”. Walaupun Sekolah Minggu diselenggarakan, namun kerap dilakukan secara “asal ada saja, ketimbang tidak ada”. Umumnya orientasi pelayanan gereja lebih diarahkan kepada pelayanan orang dewasa. Anak-anak (juga remaja) tidak dianggap sebagai bagian penuh dari komunitas jemaat. Tak heran, GSM direkrut tanpa proses pelatihan khusus yang memperlengkapi mereka untuk terlibat dalam pelayanan anak. Siapa saja, asal mau, bisa menjadi Guru Sekolah Minggu.

Menjadi Guru Sekolah Minggu Adalah Pengabdian

Untuk memenuhi ke-3 panggilan tersebut, tiap Guru Sekolah Minggu membutuhkan kerendahan hati, kesederhanaan dan kejujuran sebagai dimaksudkan dalam Yoh 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus menjadi makin kecil” (Yoh 3:30). Surat pertama Petrus secara gamblang menasihatkan: “…Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri (1 Ptr 5:1-4)”. Dengan demikian panggilan menjadi GSM itu adalah pengabdian.

Pengabdian itu adalah kebahagiaan. Kebahagiaannya, karena setiap GSM diberi kesempatan mengemban tugas yang amat mulia. Di tangan GSM itulah para ASM, diberi kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus di dalam hidupnya. ASM yang memiliki kepolosan, kejujuran, belum banyak dicemari kebiasaan buruk itu amat ditentukan oleh GSM untuk dapat menjadi anak-anak yang berguna. Seperti Amsal menyebutnya, “Sekali mereka dibentuk dengan benar maka ketika menjadi dewasa mereka akan selalu mengingat dan mereka tidak akan melenceng jauh dari kebenaran” (Amsal 22:6).

Kebenaran Firman Tuhan itulah yang harus ditanamkan di dalam diri pribadi ASM. Sungguh suatu hal yang memprihatinkan jika gereja lebih banyak menyerahkan pendidikan rohani anak-anak jemaat kepada orang-orang yang seringkali belum berpengalaman dan tidak dipersiapkan dengan bekal yang cukup.

Jadi panggilan untuk menjadi pelayan, pada hakekatnya menjadi pergumulan sepanjang waktu Yesus dalam karya singkatNya di dunia ini. Ia mewartakan kedatangan kerajaan Allah dan memanggil semua orang yang mau mendengarkan dan menjadi murid-Nya untuk mengikuti Dia dalam pelayanan. Panggilan tersebut menjadi pergumulan karena menjadi bagian kehidupan, perhatian, pemikiran, ucapan, sikap dan tindakan. Pergumulan, karena berhadapan dengan seluruh unsur kehidupan: Pemberi hidup dan ciptaan. Pergumulan, karena menghadirkan suasana yang tersendiri dalam kehidupan orang yang dipanggil tersebut. Oleh karena itu, memahami kehidupan seorang yang menerima panggilan Tuhan sama artinya memasuki suatu kenyataan pergumulan hidup manusia yang tidak ada habis-habisnya.

Panggilan menjadi pelayan, menurut Alkitab, ada sepanjang rentang waktu. Ia hadir bersamaan dengan pengenalan manusia akan Tuhan. Karena ia memperkenalkan nama dan perintahNya, kasih, penebusan, larangan, murka dan hukumanNya. Ia adalah alat yang dipakai Tuhan dalam rencana dan pemeliharaan Tuhan atas ciptaannya. Dengan demikian dipahami sebagai pengabdian, tugas, tanggung jawab dan ketaatan kepada Tuhan, yang sungguh agung, berharga, sakral, berat sekaligus membahagiakan.

Dalam Perjanjian Baru, istilah “dipanggil” (kletos) dan “panggilan” (klesis) muncul 2 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umatNya untuk sesuatu maksud yang rohani. Seluruh jemaat dipanggil (the called-out ones) oleh Tuhan. Hal itu sesuai dengan dengan Confessie HKBP Pasal 9: “kita percaya dan menyaksikan tiap-tiap orang Kristen terpanggil menjadi saksi Kristus”. Artinya, semua warga jemaat terpanggil menjadi saksi Kristus. Sebagai umat pilihan Allah terpanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah (I Petrus 2: 9). Dalam Matius 4: 18 – 22; Markus 1: 16 – 20; Lukas 5: 1 – 11, Yesus memanggil Simon Petrus dan Andreas dari tempat bekerjanya di Danau Galilea dengan ajakan “mari ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia”. Ajakan inilah yang kita sebut panggilan. Yesus memanggil muridNya berjalan dibelakangnya (deute opisoo mou) yang terjemahannya: “mari ikutlah Aku dari belakang atau mari berjalanlah dibelakangKu” (Matius 4:19-20).

Yang dipanggil itu tidak mendahului atau tidak pergi ke kiri dan ke kanan Yesus, bahkan tidak dikatakan berjalan sejajar tetapi selalu mengikut Yesus dari belakang (ekolouthesan = mengikuti). Tuhan Yesus memanggil murid-muridNya untuk berjalan dibelakangNya. Pengertiannya jangan diartikan sempit. Dalam pemikiran umat Israel di zaman Perjanjian Lama mengikuti seseorang atau berjalan di belakang mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri. Untuk berjalan dibelakangNya Yesus tidak membebani kita, tetapi yang diinginkan Yesus adalah merespons ajakanNya. Ajakan Yesus itulah yang mesti kita jawab. Sebab sambil berjalan itu kita terus mendengar dan melihat kepadaNya. Artinya mengikut Yesus berarti mendengar dan melihat serta menjadi prioritas.

Seorang pelayan atau murid, pasrah menyerahkan hidupnya kepada orang yang diikuti dengan segala risikonya. Karena kemauannya mengikuti panggilan Yesus, secara otomatis dia merubah hidupnya dengan kemauan Yesus yang diikutinya. Dia mau meninggalkan segala jalan kehidupan semula dan mengikuti jalan Yesus. Meski berat dan susah tetapi kita tidak akan ditinggalkanNya. Jadi “mari ikutlah Aku dari belakang” telah mengubah hidup duabelas (oi dodeka) orang Galilea dan dikemudian hari ratusan juta orang lainnya. Rahasia kesuksesan dari orang yang bersedia memenuhi panggilan Yesus ini, tertulis dalam Markus 9:35; 9:35-50, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir”.

Lihat Juga

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − fifteen =