Sejarah Berdirinya Sekolah Minggu

Foto Robert Raikes pendiri Sekolah Minggu

Awal Mula Berdirinya Sekolah Minggu


Sekolah minggu bermula dari prakarsa bapak Robert Raikes, seorang jurnalis dan pengusaha percetakan surat kabar yang tinggal di kota Gloucester, Inggris. Beliau tergugah saat melihat banyak anak-anak yang bertingkah laku buruk di hari Minggu pada waktu itu. Anak-anak itu berpakaian compang-camping, kotor, berbahasa kasar, ribut-ributan, saling memaki dan berkeliaran di sepanjang jalanan kota Gloucester.

Bapak Robert Raikes kemudian mengumpulkan beberapa anak dan meminta kesediaan beberapa ibu untuk mengajar anak-anak itu pada hari Minggu di rumah mereka. Beliau kemudian memberi imbalan 1 shilling sehari untuk bantuan ibu-ibu tersebut. Itulah sebabnya kegiatan ini disebut sekolah minggu (atau dalam bahasa Inggrisnya Sunday School). Kegiatan yang diajarkan adalah membaca dan menulis. Bapak Robert Raikes sendiri tidak ikut langsung mengajar tetapi hanya sesekali membantu.

Kondisi Awal Sekolah Minggu


Pada awalnya, kondisi sekolah minggu berjalan kurang baik. Anak-anak yang dikumpulkan sangat nakal dan jahil. Seorang mantan murid kelas pertama itu mengenang mereka tidak belajar banyak hal-hal lain kecuali untuk duduk diam. Pernah suatu ketika, seorang anak iseng menyembunyikan seekor luwak di balik bajunya dan membawanya masuk ke dalam kelas. Saat ibu pengajar sedang sibuk mengajar, anak tadi melepaskan luwaknya sehingga kelas menjadi kacau tak terkendali. Dibutuhkan waktu untuk menertibkan kelas kembali seperti semula.

Bapak Robert Raikes kemudian bermufakat dengan guru-guru bahwa seorang anak harus belajar mengendalikan diri dahulu sebelum dapat memperoleh keuntungan dari mata pelajaran akademis. Bila seorang anak terlampau nakal, bapak Robert Raikes sendirilah yang menghukumnya. Terkadang ia mengantar anak yang nakal pulang ke rumah dan menuntut orangtuanya menghukum anak itu. Bapak Robert Raikes akan menunggui sampai hukuman itu terlaksana dan mengantar kembali anak itu ke tempat belajar.

Jadwal sekolah minggu adalah anak-anak datang jam 10 pagi dan belajar membaca hingga jam 12 siang. Kemudian mereka pulang untuk makan siang dan kembali lagi pada jam 1 siang. Selanjutnya mereka diantar ke gereja untuk beribadah. Selesai ibadah mereka kembali lagi ke sekolah minggu dan belajar menghafal katekismus hingga jam 5 sore. Setelah itu mereka diperbolehkan pulang dan selalu diingatkan untuk langsung pulang ke rumah dan tidak berbuat keributan di jalan.

Perkembangan Sekolah Minggu Selanjutnya


Karena hasil perkembangan sekolah minggu pertama yang semakin baik, sekolah minggu mulai didirikan di tempat-tempat lain. Berita dan manfaat sekolah minggu dituliskan juga dalam surat kabar milik bapak Robert Raikes sehingga semakin mempercepat penyebaran berita tentang sekolah minggu.

Walaupun berhasil baik, ada juga pihak-pihak yang menentang kegiatan sekolah minggu. Pihak pengusaha menentang karena khawatir jika buruh anak-anak bisa membaca dan menulis maka mereka akan meminta upah yang lebih besar. Pihak gereja Anglikan juga menentang karena khawatir kekuasaannya akan berkurang karena sekolah minggu cenderung dikaitkan dengan kegiatan pendeta di luar gereja Anglikan. Ada juga pihak yang menentang karena pelaksanaan kegiatan sekolah minggu di hari Minggu yang dianggap melanggar kesucian hari Sabat.

Sekalipun ada banyak pertentangan, sekolah minggu terus berkembang hingga ke seluruh Inggris. Gerakan sekolah minggu juga berkembang ke negara lain seperti Amerika, Jerman, Belanda dan akhirnya sampai ke Indonesia.

Referensi:
1. Boehlke, Robert R., PhD, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2011.

Lihat Juga

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =