Siapakah Aku – Renungan Pengenalan Diri

Ilustrasi siapakah aku
“Siapakah Aku?” Sebuah pertanyaan sederhana yang belum tentu dapat dijawab dengan tepat. Jika ditanyakan pada seseorang, mungkin jawabannya adalah: “Aku adalah Adi”, “Aku adalah manusia”, “Aku adalah anak orangtuaku” dan sebagainya. Berabad-abad manusia dengan pengetahuannya berusaha untuk mengenali dirinya dan darimana asalnya. Socrates berkata “Kenalilah dirimu sendiri”. Tanpa pengenalan diri, manusia akan menganggap dirinya tidak berarti.

Beberapa ahli mencoba menelusuri lebih jauh tentang siapa aku (baca: manusia). Aristoteles dengan teori abiogenesis mengatakan bahwa segala makhluk hidup berasal dari benda mati. Louis Pasteur dengan teori biogenesis menentangnya dan mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup. Charles Darwin dengan teori evolusi mengatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dari bentuk sederhana menjadi kompleks. Contohnya manusia berevolusi dari kera besar, kera besar dari kera kecil dan seterusnya hingga akhirnya berujung pada makhluk bersel satu. Namun Darwin tidak dapat menjawab mengapa makhluk hidup itu hidup dan darimana kehidupan berasal. Karl Marx mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang lebih cerdas.

Manusia juga berusaha mencari jawab tentang siapa dirinya dari segi rohani atau agama. Agama-agama suku seperti bangsa Mesir, Yunani, bangsa-bangsa sekitar Israel, Jepang, Batak dan bangsa-bangsa lain mengatakan bahwa manusia berasal dari hasil perkawinan dewa-dewi. Dalam diri manusia ‘mengalir darah’ dewa-dewi sehingga manusia adalah keturunan dewa-dewi (baca: tuhan). Dalam keyakinan ini, para raja atau kaisar biasanya disembah karena diyakini sebagai keturunan langsung dari dewa. Penolakan menyembah para raja sebagai dewa akan berujung pada hukuman mati. Contohnya dalam Alkitab dapat kita baca di kitab Daniel dan Wahyu.

Siapakah Aku Menurut Alkitab

Berbeda dari teori pengetahuan dan keyakinan agama-agama suku di atas, Alkitab menjawab bahwa manusia adalah hasil ciptaan atau kreasi dari Tuhan Allah (Kejadian 1-2). Sama seperti ciptaan lainnya, sedikitpun manusia tidak mengandung unsur keilahian. Manusia dan ciptaan lain bukanlah dewa atau tuhan, melainkan berasal dari Allah, diberi kuasa atas ciptaan lainnya dan dijadikan makhluk yang paling mulia (Mazmur 8).

Dalam diri Tuhan Yesus Kristus, manusia yang percaya pada-Nya semakin dipermuliakan. Mereka yang percaya tidak lagi hanya sebagai ciptaan belaka. Allah yang ‘jauh’ dari manusia semakin dekat dalam diri Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Manusia yang menerima Tuhan Yesus diangkat menjadi anak-Nya (I Yohanes 3).

Tuhan dipanggil dan disebut Bapa sebagai tanda betapa dekat dan akrabnya orang percaya dengan Tuhan Allahnya. Meskipun orang-orang percaya disebut dan dijadikan sebagai anak-anak Allah tetapi manusia tetap sebagai manusia, bukan sebagai keturunan Tuhan dan tidak memiliki keilahian dalam dirinya. Dengan menjadi anak Allah, orang percaya tidak lagi berasal dari dunia tetapi berasal dari Kerajaan Allah, dimana Kristus berkuasa sebagai Raja.

Selain sebagai anak Allah, orang percaya juga disebut anak Raja, yang menjadi pewaris kerajaan Allah. Sebagai anak Raja, orang percaya diutus ke dunia untuk membawa pulang mereka yang lupa akan asal-usulnya, mereka yang memberontak pada Raja.

Lihat Juga

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − four =