Bertemu Bule Di Rumah Uli

Ilustrasi bertemu bule di rumah Uli

Ilustrasi bertemu bule di rumah Uli


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Budi masih memacu kencang sepedanya menuju rumah Vicky. Mereka berdua mau ke rumah Uli sore ini. Tadi siang mereka berdua janjian di sekolah.

“Budi, nanti sore ke rumah Uli yok! Omnya Uli datang. Katanya dari Belanda” ajak Vicky kepada Budi. “Heh? Dari Belanda? Bule dong!” jawab Budi. “Iya, bule kata Uli. Mau gak?” tanya Vicky lagi. “Ayok, jam berapa?” Budi balik bertanya kepada Vicky. “Jam setengah 5an aja” jawab Vicky. “Ok, aku jemput ke rumahmu ya” jawab Budi menyetujui.

“Wah! Pasti Vicky sudah menungguku.” kata Budi dalam hati. Benar juga, ketika berbelok di ujung gang rumah Vicky, Budi melihat sahabatnya itu sedang menunggu dengan sepeda di depan rumahnya. “Kukira kita gak jadi ke tempat Uli, Bud.” kata Vicky saat Budi sampai di dekatnya. “Heeffhh heffh heffh… Maaf ‘Vick, tadi aku ketiduran” jawab Budi dengan tersengal-sengal. Napasnya yang memburu masih terdengar keras.

“Ayo kalau begitu, kita langsung ke tempat Uli” kata Vicky. Ia menaiki sepedanya dan mulai mengayuh. Mereka berdua mulai bersepeda dengan santai ke tempat Uli. Budi, Vicky dan Uli tinggal dalam satu komplek perumahan tapi berbeda blok.

Sambil meredakan napasnya, Budi bertanya pada Vicky ”Vick, tadi siang katamu omnya Uli orang bule ya?” “Iya” jawab Vicky. “Kok bisa? Uli kan orang batak?” tanya Budi lagi. “Kata Uli, omnya itu menikah dengan tantenya. Adik ibunya Uli. Mereka sekarang tinggal di Belanda” jawab Vicky menjelaskan. “Oh begitu” kata Budi sambil manggut-manggut.

Saat mereka tiba di rumah Uli, ada beberapa mobil telah parkir di kiri dan kanan jalan depan rumah Uli. Sepertinya ada tamu yang berkunjung ke rumah itu. “Vick, sepertinya lagi banyak tamu” kata Budi kepada Vicky. “Iya, gimana Bud? Masuk gak?” jawab Vicky. “Masuk aja. Tanggung udah sampai sini” kata Budi lagi. “Ya udah, kamu aja yang manggil Uli” kata Vicky ke Budi. “Ya udah” jawab Budi.

“Uliii!… Uliii!…” teriak Budi. “Uliii!… Uliii!…” teriak Budi lagi. Uli keluar dari rumah dan melihat Budi dan Vicky sedang berdiri di luar pagar rumahnya. “Budi, Vicky… tunggu sebentar aku ambilin kunci”. Uli masuk kembali ke rumah dan sebentar kemudian telah keluar sambil membawa kunci di tangannya. Ia berlari menuju pintu pagar dan membukanya.

“Ayo masuk. Sepedanya dimasukkan aja. Biar aman” kata Uli kepada kedua sahabatnya itu. Budi dan Vicky segera menuntun sepedanya masuk dan memarkir di pinggir pagar itu. “Ayo ayo… kita langsung ke dalam” kata Uli lagi kepada Budi dan Vicky. Budi dan Vicky berjalan mengikuti Uli masuk ke rumahnya.

Di dalam rumah ternyata sudah ramai dengan orang. Mereka adalah sanak keluarga Uli yang datang berkunjung ke rumah itu. Mereka sedang asyik mengobrol dengan om dan tantenya Uli di ruang tengah. Suara mereka terdengar keras saling bersahut-sahutan. Kadang-kadang mereka berbicara dalam bahasa batak, kadang-kadang dalam bahasa Indonesia, kadang-kadang dalam bahasa Inggris.

Tantenya Uli duduk bersama ibu-ibu sedang omnya duduk bersama bapak-bapak. Tantenya Uli lebih banyak berbicara karena ia yang mengerti bahasa Indonesia dan Batak. Omnya Uli lebih banyak diam dan tersenyum. Sesekali ia menjawab jika ditanya dalam bahasa Inggris. Terkadang ia juga ikut tertawa bersama bapak-bapak lain jika ada yang dirasa lucu dan dia mengerti.

Uli mengajak kedua temannya masuk ke ruang tengah. “Tante!” panggil Uli. Tantenya belum mendengar panggilan Uli. “Tante Sara!” panggil Uli lagi. Tante Sara baru menengok ke Uli. “Ada apa Uli? Ada apa sweetheart?” jawab Tante Sara kepada Uli. “Uli, jangan dulu ganggu tantemu. Lagi cerita-cerita mereka sama Tulang dan Nantulangmu. Mainlah dulu di depan” sahut mamanya Uli kepada Uli.

“Ini Ma, Budi dan Vicky mau ketemu sama tante dan uda” jawab Uli sambil menunjuk Budi dan Vicky yang berdiri di samping Uli. “Ah! Nantilah itu, main dululah di depan. Biar selesai dulu cerita-cerita Tulang dan tantemu.” sahut papanya Uli. “Hehehe, iya Uli. Masih cerita-cerita kami orangtua. Yang anak-anak nanti ya.” kata seorang ibu sambil tertawa kepada Uli.

“Anak-anak kan juga boleh ngobrol sama tante dan uda, Nantulang. Emangnya cuma orangtua saja” jawab Uli kepada ibu tadi. “Iya boleh. Tapi nanti ya sayang. Ini masih orangtua-orangtua yang bicara sama tante dan udamu. Masih kangen mereka.” Jawab ibu tadi kepada Uli. “Iya Nantulang, tapi kalau nunggu pasti gak selesai-selesai.” jawab Uli kembali.

“Memangnya ada apa mereka mau ketemu sama tante dan udamu?” tanya papanya Uli kepada Uli. “Mereka mau ketemu sama orang bule. Pengen ngomong Inggris katanya sama uda” jawab Uli. “Hahaha… kalau cuma itu nanti Tulang yang ajari mereka Uli. Seharian pun gak papa” kata seorang bapak kepada Uli sambil tertawa. “Yah Tulang, kan kasihan mereka sudah datang kesini. Masa sebentar saja gak boleh?” tanya Uli kepada bapak tadi.

Sorry, what’s going on? Something wrong?” tanya omnya Uli. “Nothing Klaas. Just Uli’s friends. They want to see foreigners and speak in English with you” jawab bapak yang tadi dipanggil tulang oleh Uli. “Oh okay, it’s alright. I can speak with them” jawab omnya Uli yang dipanggil Klaas sambil tersenyum. “Come here!” panggil Om Klaas sambil menggerakkan tangannya untuk mengajak Uli, Budi dan Vicky agar mendekat.

Mereka bertiga berjalan mendekati Om Klaas. “Halo, apa kabar?” tanya Om Klaas sambil mempersilahkan mereka bertiga duduk disampingnya. “Baik Om” jawab Vicky dan Budi berbarengan. “Good, what’s your name?” tanya Om Klaas kepada Budi. “Budi Om” jawab Budi. “And you?” tanyanya lagi kepada Vicky. “Vicky Om” jawab Vicky. “Great, so how are you?” tanya Om Klaas lagi. “I’m fine Om” jawab Vicky cepat. “I’m fine juga Om” jawab Budi. Semua orang di ruangan itu tertawa mendengar jawaban Budi.

Mereka bertiga berbicara dengan Om Klaas beberapa saat. Ternyata Om Klaas baik banget. Walaupun tinggal di Belanda, dia tidak sombong. Om Klaas bilang saat ini sedang liburan musim panas di Indonesia. Mereka akan tinggal di rumah Uli sampai besok. Setelah itu Om Klaas dan Tante Sara akan melanjutkan liburan ke Medan dan Bali.

Setelah berbincang-bincang dengan Om Klaas, Budi dan Vicky pamitan untuk pulang. “Om, kami pulang dulu ya. Sudah mau gelap” kata Vicky kepada Om Klaas. “Okay Vicky. Be carefull” jawab Om Klaas. “You too” katanya juga kepada Budi. “Ok om” jawab Budi. “Om, tante, semua, kami pamit ya” kata Budi dan Vicky kepada semua orang di ruangan itu. “Iya Budi, Vicky… hati-hati pulangnya ya” jawab papanya Uli kepada mereka berdua.

Uli mengantar kedua sahabatnya itu sampai ke depan pagar. “Bagaimana? Puas ngobrol dengan orang bule?” tanya Uli kepada Budi dan Vicky. “Hehehe.. puas Uli” jawab Budi. “Iya puas Uli, puas ngobrol campur-campur Ingris Indonesia” jawab Vicky sambil melirik Budi. “Hahaha” mereka bertiga tertawa.

Budi dan Vicky menuntun sepeda mereka masing-masing keluar pagar. “Iya nih mesti belajar bahasa Inggris lagi. Supaya ngomongnya lebih lancar” kata Budi. “Iya, mesti baca kamus dan berlatih tiap hari. Biar nambah vocabulary-nya” kata Uli. “Iya” jawab Budi dan Vicky serempak.

“Kami pulang ya Uli. Sampai ketemu besok.” kata Vicky sambil mulai mengayuh sepedanya. “Iya Uli, see you tomorrow” kata Budi juga sambil mengayuh sepedanya. “Hahahaha… Inggris Indonesia… Inggris Indonesia…. hahahaha” mereka bertiga kembali tertawa.

Lihat Juga

One thought on “Bertemu Bule Di Rumah Uli

  1. Prima

    Kadang pun pelajaran Bahasa Inggris di sekolah kurang terasa manfaatnya. Kalau ada waktu, lebih baik mengisi liburan sekolah di KAMPUNG INGGRIS

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 4 =